Informazione

Sharing is everything and awesome

Karbondioksida di Atmosfer Bumi Capai Titik Tertinggi

Konsentrasi karbondioksida (CO2) di atmosfer Bumi sudah menjangkau titik teratas barunya. Oleh karenanya, PBB memperingatkan aksi cepat dibutuhkan untuk menjangkau tujuan yang diputuskan oleh perjanjian iklim Paris. Konsentrasi karbondioksida di atmosfer melonjak pada kecepatan memecahkan rekor pada th. 2016, dalam 800 ribu th., kata Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Konsentrasi global rata-rata CO2 menjangkau 403, 3 ppm (part per million) pada th. 2016, naik dari jam 400. 00 ppm pada th. 2015. Penambahan itu karena gabungan kesibukan manusia serta momen El Nio yang kuat.

Kepala WMO Petteri Taalas menyebutkan, tanpa ada pengurangan CO2 yang cepat serta emisi gas tempat tinggal kaca yang lain, Bumi juga akan hadapi kenaikan suhu yang beresiko pada akhir era ini. Jauh diatas tujuan yang diputuskan oleh perjanjian perubahan iklim di Paris. Cuma saja, perjanjian bersejarah yang di setujui oleh 196 negara dua th. lantas ini hadapi desakan baru, menyusul ketentuan Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan perjanjian itu. Tetapi, negara-negara bersiap untuk meneruskan tugasnya dalam perundingan iklim di Bonn, Jerman, minggu depan.

f:id:funtech:20171101052113j:plain

The Greenhouse Gas Bulletin, laporan paling utama tahunan tubuh cuaca PBB, mencari kandungan gas beresiko di atmosfer pada masa pasca-industri (mulai sejak 1750). Laporan itu juga menyebutkan kalau waktu paling akhir Bumi alami tingkat konsentrasi CO2 yang sama yaitu tiga hingga lima juta th. waktu lalu, saat permukaan laut menjangkau 20 mtr. lebih tinggi dari saat ini. Dave Reay, profesor manajemen karbon di University of Edinburgh, menyebutkan, semestinya probleman jadi peringatan untuk beberapa pemimpin. Sebab, bersamaan dengan meningkatnya perubahan iklim, kekuatan tempat serta samudra untuk membuat emisi karbon Bumi juga akan melemah.

Walau sekian, ia menilainya masih tetap ada saat untuk mengatur emisi ini serta tetaplah memegang kendali. Tapi bila kita menanti sangat lama, manusia juga akan jadi penumpang di jalan satu arah menuju perubahan iklim yang beresiko, tegas dia. kepala Lingkungan PBB Erik Solheim mengimbau, apa yang diperlukan saat ini yaitu tekad politik global serta perasaan baru yang menekan.